23 Januari

23 Januari tahun lalu aku sempat menuliskan sesuatu untuk ayahku. Tentang bagaimana selama 61 tahun ia hidup. Bagaimana ia menikmati masa mudanya sampai bertemu dengan ibuku. Tapi, karena aku mengalami writerblock, jadi aku memutuskan untuk tidak mempublikasikannya. Tapi akan aku tulis ulang dengan lebih baik lagi.

Harusnya, hari ini adalah hari bahagia ayahku, karena ia berulang tahun ke-62 tahun. Tapi, sepertinya Tuhan lebih mencintai ayahku dibanding aku dan kakakku sebagai anaknya. Jujur ini adalah salah satu patah hati terberatku setelah kepergian ibuku.

Aku mencintai ayahku lebih dari mencintai diriku sendiri. Layaknya anak-anak yang lain yang menjadikan ayahnya sebagai cinta pertamanya, akupun begitu. Ayahku adalah cinta pertamaku. Ia adalah ayah terbaik untukku. Ia mengajariku tentang banyak hal, terutama tentang hidup.

Dulu, disaat anak-anak lain kebanyakan diambilkan rapotnya oleh ibunya, ayahku dengan gagah berjalan kearah kelasku untuk mengambil rapotku. Aku tidak pernah marah pada ibuku perihal pengambilan rapot, karena aku tahu ibuku yang berjuang mencari nafkah untuk kami sekeluarga.

Ayah juga yang sering mengantar jemputku ketika sekolah. Aku masih ingat salah satu moment ketika ayah menjemputku dengan saudara kembarnya. Ketika itu aku masih SD, aku dan beberapa temanku menunggu di luar gerbang sekolah untuk dijemput oleh orang tua masing-masing. Ketika ayahku telah sampai di depan gerbang, salah satu temanku nyeletuk, "eh, bapakmu ada dua?"

Kalau diingat-ingat, itu lucu sih. Cuma sekarang cuma bisa diingat aja.

Gimana aku harus meluapkan perasaanku hari ini? Aku seneng karena masih ketemu tanggal 23 Januari tahun ini, tapi juga sedih karena ayah gak ada bareng aku buat rayain. Harusnya hari ini kita makan enak kan yah? Harusnya kita makan ayam goreng kesukaan ayah atau ke tempat lesehan yang ayah dan ibu suka.

Kayaknya ucapan "Selamat Ulang Tahun" berikur doa yang ikut terpanjatkan, setelah berdoa aku pasti cium pipi ayah kanan dan kiri, lengkap. Itu adalah tradisi yang dilakukan oleh ayah dan ibuku sedari aku dan kakakku kecil. Kebiasaan kecil itu yang sampai sekarang masih aku coba terapkan.

Kembali menceritakan ayahku. Beliau adalah salah satu laki-laki yang keren, sangat amat keren bahkan. Ayahku bisa melakukan apa saja, sampai aku merasa bahwa ayahku tidak memiliki sebuah kekurangan. Setidaknya, itulah yang selalu aku lihat dari dulu hingga sekarang.

Ayahku kuat seperti Hulk—sebenernya keliatan muluk banget cuma gak apa-apa deh. 

Ayahku juga si serba bisa. Masak bisa, benerin barang elektronik—tidak termasuk tv dan kulkas dan lain-lain sih. Ayahku juga jago menggambar walau hanya bunga mawar yang akan ayahku gambar kalau aku ada tugas menggambar. Oh iya, ayahku jago matematika—walau cuma ilmu dasar doang, cuma itu udah keren banget untuk aku yang bodoh perkara matematika.

Rasanya, aku benar-benar anak yang beruntung punya ayah seperti ayahku. 

Yah, i love u to the moon and back.
Aku selalu bilang, mau seberapa banyak kehidupan yang akan datang, aku tetep mau jadi anak ayah dan ibu. Aku masih mau menjadi adik dari kakakku. Aku mau sama keluarga ini terus dengan umur yang lebih panjang tentunya.

Komentar

Postingan Populer